Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019

Sambatan Ekstrovert

Hai semua, orang - orang yang kuharap mampir dan mengerti sedikit sambatanku. Minggu ini entah mengapa saya selalu membaca ataupun sekilas terbaca kalimat yang merujuk pada inti "Apapun yang kamu rasakan, semua perasaanmu apapun yang kamu rasakan, simpanlah sendiri dan pasrahkan pada Tuhan, sebab Tuhan yang Maha Mengerti dan Memahami segalanya." Saya merasa, bagaimana ya? Jika dibilang setuju dengan pernyataan itu ya memang saya setuju. Tapi, saya tidak sepenuhnya bisa melakukan hal itu. Saya bukan orang yang suka menyimpan cerita, rasa, emosi. Saya orang yang selalu menunjukkan segalanya yang saat itu juga dialami. Saya bahkan bisa menangis sejadinya ketika saya memang sakit hati, lelah rasa, atau kondisinya memang sedang tidak enak sekali. Saya juga tertawa ketika melihat hal yang lucu sekali. Entah mengapa saya mudah berubah untuk mengekspresikannya. Beberapa sahabat bahkan mayoritas mengerti bahwa saya sangat menahan perasaan sedih dan sakit sehingga saya hanya tertawa ...

Malam - malam

Aku selalu berpikir bahwa malam sangatlah menyenangkan. Mengajarkan untuk merenungi kejadian seharian, mengikhlaskan dan meleburkan hal - hal yang menjadi beban di hari itu. Malam pun tidak pernah lari meninggalkan diri ini menangis sampai tertidur, setia menemani sampai diri lelah dan menyadarkan bahwa esoknya ada hari baru yang harus di awali, diperbaiki, dan di isi. Malam sangat setia bahkan bagiku adalah waktu yang paling menyenangkan. Berdo'a sedalam - dalam perasaan hingga tangis memecah keheningan selalu bisa menjadi agenda. Memanjatkan harap di sepertiga malam juga adalah sebaik - baiknya. Gelapnya malam tercerahkan karena do'a yang amat menyala. Aku bisa menikmati hangatnya malam dari dinginnya. Aku bisa menikmati ramainya malam dari do'a - do'a yang beradu di kesunyiannya. Aku bisa menikmati tenangnya malam dari nyamannya menangis, tersenyum, berpikir, berimajinasi di sepanjang waktunya.

Lingkaran Hidup

Kalo belum jadi rezekinya ya belum jadi haknya kan. Kalo memang bukan rezekinya ya sampai kapanpun memang bukan haknya. Kewajiban manusia hanya berusaha, berdoa, dan pasrah. Tapi itu ternyata bukan sekedar "hanya". Pernahkah kamu merasa ketiga tersebut sangat sulit dilakukan pada waktu tertentu? Aku pernah merasakan demikian. Ternyata berusaha tidak seenak semangat niat di awal, pasti di tengah perjalanan menempuh sesuatu akan ada kata lelah, ingin menyerah, ingin segalanya berakhir, benar bukan? Lalu saat berdoa, diri merasakan bahwa harus selalu berdoa, tapi sampai kapan? Pada akhirnya diri berujung pada titik pasrah. Dan berulang dari awal. Seperti itu terus agar tetap hidup. Memang seharusnya berusaha dan terus berusaha, tapi tidak ada salahnya jika diri merasa lelah yasudah istirahat saja, menikmati hal - hal yang memang sudah tersedia, misalkan menenangkan diri ke tempat liburan seperti pantai, gunung, bukit, atau di atap rumah saat senja itu sudah membuat diri sedik...