Langsung ke konten utama

Lingkaran Hidup

Kalo belum jadi rezekinya ya belum jadi haknya kan. Kalo memang bukan rezekinya ya sampai kapanpun memang bukan haknya. Kewajiban manusia hanya berusaha, berdoa, dan pasrah. Tapi itu ternyata bukan sekedar "hanya". Pernahkah kamu merasa ketiga tersebut sangat sulit dilakukan pada waktu tertentu? Aku pernah merasakan demikian. Ternyata berusaha tidak seenak semangat niat di awal, pasti di tengah perjalanan menempuh sesuatu akan ada kata lelah, ingin menyerah, ingin segalanya berakhir, benar bukan? Lalu saat berdoa, diri merasakan bahwa harus selalu berdoa, tapi sampai kapan? Pada akhirnya diri berujung pada titik pasrah. Dan berulang dari awal. Seperti itu terus agar tetap hidup. Memang seharusnya berusaha dan terus berusaha, tapi tidak ada salahnya jika diri merasa lelah yasudah istirahat saja, menikmati hal - hal yang memang sudah tersedia, misalkan menenangkan diri ke tempat liburan seperti pantai, gunung, bukit, atau di atap rumah saat senja itu sudah membuat diri sedikit rehat. Menghabiskan waktu untuk mencukupi tidur juga tidak ada salahnya. Jika telah selesai melakukan sesuatu hal sampai target tercapai berilah hadiah untuk diri sendiri, sesekali memberikan makanan terenak setelah menerima gaji atau uang saku di awal bulan juga boleh. Tidak perlu memaksa jika memang sudah pada titik lelah, jika sudah selesai memanjakan diri, mari kembali lagi berjanji untuk menyelesaikan sampai garis akhir. Berdoa pun harus selalu dilakukan, saat teringat hal yang membuat diri bahagia ucapkan Alhamdulillah atau masyaAllah jika melihat hal yang mengagumkan. Jika lelah panjatkan saja doa agar selalu diberi kekuatan dan keikhlasan menjalani ini semua. Aku juga tidak tahu mana doa yang akan sampai dan terwujud pada waktu yang tepat, atau bahkan akan diganti dengan hal yang lebih indah dari yang diinginkan. Selanjutnya berpasrahlah bahwa sudah semua dilakukan dengan terbaik, penuh usaha, penuh doa. 
Semua ini yang ku tulis juga sedang ku kerjakan, sebagai pengingat diri saja kali - kali aku atau kamu ingin menyerah pada titik tertentu. Teruslah berusaha, berjuang, dan mengingat apa tujuan awalmu. Kalo lelah ya beristirahat dan bukannya menyerah ya. Salam hangat dan semangat dariku untuk kamu.

Sukoharjo, 8 Juli 2019
Senja pukul 18.05.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam - malam

Aku selalu berpikir bahwa malam sangatlah menyenangkan. Mengajarkan untuk merenungi kejadian seharian, mengikhlaskan dan meleburkan hal - hal yang menjadi beban di hari itu. Malam pun tidak pernah lari meninggalkan diri ini menangis sampai tertidur, setia menemani sampai diri lelah dan menyadarkan bahwa esoknya ada hari baru yang harus di awali, diperbaiki, dan di isi. Malam sangat setia bahkan bagiku adalah waktu yang paling menyenangkan. Berdo'a sedalam - dalam perasaan hingga tangis memecah keheningan selalu bisa menjadi agenda. Memanjatkan harap di sepertiga malam juga adalah sebaik - baiknya. Gelapnya malam tercerahkan karena do'a yang amat menyala. Aku bisa menikmati hangatnya malam dari dinginnya. Aku bisa menikmati ramainya malam dari do'a - do'a yang beradu di kesunyiannya. Aku bisa menikmati tenangnya malam dari nyamannya menangis, tersenyum, berpikir, berimajinasi di sepanjang waktunya.

Kepada: Tuan

Tuan, maafkan saya tak bisa membendung rasa. Tuan, maafkan saya tak bisa menengadahkan muka. Tuan, maafkan saya tak punya nyali untuk menyapa. Saya tahu, saya hanya debu. Yang tak akan pernah Tuan sadari. Saya tahu, saya hanya angin lalu. Yang tak akan pernah Tuan ingini. Tuan, saya tak bermakna,  Sangat tidak bagi Tuan. Saya hanya punya nama, namun Tuan tak bisa mengingatnya. Tuan, saya tak terlihat. Sangat tidak bagi Tuan. Saya hanya punya muka, namun Tuan tak mau melihatnya. Tuan, saya tak dicinta. Sangat mustahil bagi Tuan. Sebab saya punya rasa, namun Tuan hiraukan. Bahkan tak akan terjadi sebuah ikatan. Kepada Tuan, Sepenuh hati yang saya berikan, Tak akan ada arti yang Tuan balaskan.

Usia 20-an

Muak karena menyusun latar belakang yang tidak kunjung usai, sepertinya menulis sedikit di laman ini akan menjadi hal yang menyenangkan, wkwkwk. Maksudnya, menyenangkan untuk curhat. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, semua perempuan. Bapak kerja di luar kota dan di rumah aku bersama mama dan adikku yang kedua. Lagi-lagi ceritanya klise ya, hehehe. Ya dilanjut aja ya. Nah, karena WFH ini membuatku semakin stres dibanding ketika hal apapun bisa dilakukan secara tatap muka. Ya karena aku melabeli diriku seorang ekstrovert jadi merasa bosan dengan kegiatan di sekitar rumah. Permasalahannya, ketika WFH secara otomatis kegiatan akan berlangsung di rumah dan pastinya akan terus bertemu anggota keluarga. Sebenarnya hal itu menyenangkan tapi juga menyebalkan. Intensitas berkomunikasi dan konflik sering banget terjadi, apalagi karena hal sepele. Well,  karena sudah berada di semester 7 alias semester agak tua, hal-hal kedepan terlihat abstrak, skripsi, sidang, wisuda, karir, akademik ...