3 Agustus 2019
Saya memberanikan diri pergi ke suatu daerah yang jarang saya kunjungi dengan membawa kendaraan sendiri terkecuali dengan rombongan teman-teman, pada siang itu saya mengajak teman untuk menemani kenekad-an diri ke suatu daerah, awalnya saya berniat menguji kemampuan jam terbang mengendarai motor saya dan bertujuan mengunjungi suatu bazar buku terbesar yang diadakan di daerah tersebut.
Pukul 13.30 WIB saya berangkat bersama sahabat yaitu Gina. Ya sudah bisa tertebak dimana saya akan pergi, ke sebuah kota yang tak jauh dari Solo, jarak tempuhnya haya kurang lebih dua jam saja, dan saya berpikir bisa melewatinya. Ya saya pergi ke Jogjakarta.
Kota yang bagi semua orang menyimpan cerita yang panjang, cerita yang indah dan menyentuh. Bagi mereka kota yang selalu menyimpan kenangan dan membuat mereka selalu ingin kembali kesana.
Namun, mengapa saya belum merasakannya, bolak - balik saya mengunjunginya, perasaan saya merasa biasa saja, tidak pernah ada rasa kota itu memiliki kenangan yang melekat dan belum ada rasa yang membuat saya ingin kembali lagi kesana.
Perjalanan sangat melelahkan bagi saya karena jalan di Klaten harus ditutup untuk sebuah acara sehingga saya harus mencari alternatif jalan yang lain. Cuacanya saat itu cerah dan membakar. Solo-Jogja kala itu terasa sangat lama perjalanannya, untungnya Gina ini sudah ahli karena dia bisa dibilang rutin mengunjungi Jogja. Bodohnya saya uang saku yang ada pada tas besar yang hanya sebesar Rp30.000 tertinggal di rumah Gina, karena saya hanya pergi menggunakan tas kecil. Untunglah Gina juga mau berbaik hati mensubsidi bensin saya dan menalangi apapun keperluan di perjalanan.
Betapa nekadnya saya karena uang yang dibawa sangat minim, berbekal keyakinan dan jargon "Gaske wae" saya benar - benar memacu gas saya dengan kencang. Tidak merasa lelah hingga pada akhirnya pegal dan remuk menghampiri badan saya saat sampai di sebuah bazar buku.
Hampir dua jam perjalanan saya mengendarai PURU kesayangan dan di setiap 15 menit sekali saya bertanya pada Gina kapan sampainya hehehehe. Disitu saya memang sudah merasa lelah dan berpikir, kok tidak sampai - sampai.
Di Bazar buku tersebut saya juga harus mengantri untuk masuk padahal saya hanya berniat melihat - lihat buku yang banyak dan menarik, tidak ada niatan untuk beli, bagaimana membeli, uang saku yang sedikit saja tertinggal. Kita berkeliling dan melihat buku - buku yang menarik dan baru bagi penglihatan saya. Serasa ingin mempunyai semua buku - buku tersebut.
Singkat cerita, saya kelelahan dan akhirnya menepi di dekat tiang dan masih berada di dalam bazar tersebut, saya menyerah menemani Gina berkeliling karena akhirnya dia memutuskan untuk membeli buku.
Satu jam menunggu dan bekali-kali saya menghubungi Gina tapi tidak ada respon. Saya masih ingat sekali, ada 17 pesan yang saya kirim dan 24 panggilan. Sama sekali dia tidak merespon. Karena saya sadar kelelahan, saya memutuskan keluar dari gedung tersebut dan mencari udara di luar. Saya menyadari sumber dari semua kelelahan dan kesakitan di tubuh ini karena pada Hari Kamis saya mengikuti olahraga Muay Thai dan efeknya baru sangat terasa di hari tersebut. Benar-benar luar biasa sakitnya hahaha, serba salah ingin berdiri lebih lama tapi kaki tidak bisa, ingin duduk searasa paha lepas semua hahaha.
Ah saya paksakan duduk sembari menunggu Gina menjawab pesan dari saya. Tidak lama Gina menelfon saya dan keluar dari gedung.
Sembari menunggu maghrib selesai, kita duduk ditepian lapangan dan beristirahat, memikirkan kemana kita akan makan dan tempat mana yang akan dikunjungi berikutnya.
Dan saya ingat, selalu ingat sahabat baik saya yang ada di Jogja, kebetulan orangnya sedang pulang jadi saya hanya meminta rekomendasi tempat ayam geprek yang enak di sekitar Jogja, setelah 3 nama tempat yang diusulkan, kita awalnya memilih geprek Pak Wage. Namun ketika sudah sampai di tempat tersebut, sahabat saya mengirim pesan bahwa geprek terenak adalah dirty chicken, lalu akhirnya kita meluncur kesana.
Sesampainya disana kita memesan, duduk, dan makan. Setelah itu memutuskan untuk pergi ke Malioboro. Jalanan sangat macet bahkan saya hanya berkendara tidak lebih dari 30km/jam, sangat pelan. Saya lupa bahwa ternyata hari itu adalah malam minggu hahaha, maklum sudah jomblo.
Malioboro tampak riuh di malam hari, sembari menikmati kemacetan, kita mencari tempat parkir yang pas sehingga dapat berjalan-jalan di Malioboro. Sebenarnya saya sangat suka berjalan di Malioboro terlebih pada malam hari, entah suasana apa yang membuat saya nyaman, munculah rasa saya ingin datang kesana lagi suatu saat. Baru kali itu saya bisa menikmati Jogja dengan bahagia dan merasa bebas. Di 0 Km ada sebuah pagelaran "Jogja Cross Culture" beruntungnya saya bisa melihat pagelaran tersebut, seperti kebanyakan orang saya dan Gina duduk di seberang Bank BNI. Pasti kalian tahu kan, gedung putih di seberang 0 km.
Seperti orang lain kebanyakan, kita berfoto di sana - sini, jalan-jalan, duduk. Apapun itu yang penting intinya menikmati Malioboro.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.15 WIB saya memutuskan untuk mengajak Gina pulang karena mengingat bahwa saya pergi ke Jogja tidak ijin kepada mama saya hehehe, karena jika mama tahu pasti sudah melarang saya dan berkata yang tidak-tidak. Malam itu terasa dingin dan benar-benar dingin.
Namun karena saya merasa harus pulang cepat saya melaju dengan kecepatan 80km/jam. Angin malam itu sungguh terasa dingin sekali lagi saya merasakan teramat dingin. Gina yang selalu berkali-kali saya ingatkan untuk menutup jaketnya dan saya minta untuk menyampaikan jika dia merasa mengantuk tapi malah dia yang khawatir saya mengantuk hahaha. Saya tidak mengantuk karena merasa masih tegang belum sampai rumah pada jam sekian. Perjalanan pulang sungguh terasa lama karena pada saat itu mungkin saya terasa lelah sekali dan berkali-kali Gina malah mengkhawatirkan saya.
Tapi karena dari awal saya sudah bertekad dan menyampaikan niatan awal kepada Gina, dia selalu percaya dan mengikuti saya. Hal yang saya sukai dari sahabat saya yang satu ini adalah hal seperti itu, dia tidak pernah meragukan saya jika memang mempunyai niat yang baik dan kuat.
Setelah kurang lebih 2,5 jam perjalanan karena macet sekali ketika keluar dari Jogja akhirnya saya melihat jalan Baki yang sering saya lewati ketika berangkat kuliah serasa saya berhasil menantang diri saya sendiri. Saya seperti mendeklarasikan bahwa saya manusia terbebas setelah melakukan perjalanan itu dan memang sahabat saya Gina mengapresiasi pencapaian saya. Walaupun saya tahu, bagi dia hal itu biasa saja tapi dia menghargai diri saya. Sesampainya mengantar dia ke rumah dan mengganti uang yang saya pinjam lalu melaju pulang. Anehnya saya tidak mengantuk hahahaha bahkan saya merasa senang sekali. Sampai di rumah pun saya baru menyampaikan kepada mama bahwa saya pergi ke Jogja dan mama tidak marah hahaha.
Semenjak hari itu, saya mau dan punya alasan lagi kembali ke Jogja. Saya mulai tertarik dengan Kota Jogja. Dari kunjungan saya yang kesekian kali, kunjungan kala itu yang mengesankan diri saya.
Menyadari bahwa Jogja punya cerita, punya kenangan yang mengesankan, perjalanan yang penuh perasaan. Saya yakin Jogja selalu punya cerita bagi siapapun itu. Jika kamu belum merasakannya cobalah untuk menemukannya :)
Komentar
Posting Komentar