Muak karena menyusun latar belakang yang tidak kunjung usai, sepertinya menulis sedikit di laman ini akan menjadi hal yang menyenangkan, wkwkwk. Maksudnya, menyenangkan untuk curhat.
Aku anak pertama dari tiga bersaudara, semua perempuan. Bapak kerja di luar kota dan di rumah aku bersama mama dan adikku yang kedua. Lagi-lagi ceritanya klise ya, hehehe. Ya dilanjut aja ya.
Nah, karena WFH ini membuatku semakin stres dibanding ketika hal apapun bisa dilakukan secara tatap muka. Ya karena aku melabeli diriku seorang ekstrovert jadi merasa bosan dengan kegiatan di sekitar rumah. Permasalahannya, ketika WFH secara otomatis kegiatan akan berlangsung di rumah dan pastinya akan terus bertemu anggota keluarga. Sebenarnya hal itu menyenangkan tapi juga menyebalkan. Intensitas berkomunikasi dan konflik sering banget terjadi, apalagi karena hal sepele. Well, karena sudah berada di semester 7 alias semester agak tua, hal-hal kedepan terlihat abstrak, skripsi, sidang, wisuda, karir, akademik suram rasanya. Tentunya nggak berhenti disitu aja ya, tekanan dari orang tua, keadaan, lingkungan itu sangat mengagumkan ya. Masa pandemi ini kan juga berdampak ke finansial, ya finansial lagi semrawut. Awal bulan November ini juga, udah nggak tau mau ngapain, mau kerja sambilan apa juga nggak paham. Rasanya otak mau pecah kalau mikir semua-muanya. Hiks.
Seringnya kalau lagi overthinking malam, mikir mau jadi apa, habis ini mau ngapain, trus sebenernya passionnya apa, useless gitu rasanya. Keadaan diri yang nggak jelas dan lingkungan keluarga yang kadang toxic bikin pikiran nggak shampoo (clear).
Aku sadar selalu susah buat ngontrol emosi, apalagi jarang ngobrol yang bener-bener asli ngobrol sama orang. Kontrol diri sangat rendah ya, hiks, menangisi diri ini. Ya sebenernya juga paham, kalau dari kita sendiri mikir dan meragukan masa depan itu tuh, namanya nggak bersyukur, kan? Tapi. di sisi lain juga sadar kalau nggak berusaha ya nggak bisa. Cuma kadang terlintas, sebenernya yang dikejar itu apa? Yang diusahakan itu apa?
Saking seringnya sendiri, jadi sering ngobrol sama diri sendiri, terus kadang ngerasa nggak ada yang memahami diri sendiri, kesepian lagi. Ya memang ada baiknya, jadi tau dan sadar, kalau yang bisa diandalkan itu cuma diri sendiri, nggak bisa bergantung sama orang lain. Tapi emang bener-bener bingung harus ngapain, berpijak sama siapa, mau gimana. Semoga aja di kesempatan lain, udah terjawab ya, pertanyaan-pertanyaan klise, permasalahan usia 20-an.
Komentar
Posting Komentar