Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Ironis Sendiri

Menaruh rasa dengan seseorang yang katanya setia, nyatanya tak terbukti. Menaruh rasa dengan sahabat, nyatanya sakit sendiri. Menaruh rasa dengan seorang pengumpat, nyatanya miris sekali. Menaruh rasa dengan seorang penyair, nyatanya di pandang tak ada arti. Ironis dan miris. Berkali-kali jatuh cinta sendiri. Berkali-kali menyukai sendiri. Hanya satu arah dan tak ada balasan baik yang kembali. Semenyedihkan itu rasa yang dipunya. Memang lebih baiknya, disimpan untuk diri sendiri saja.

Kepada: Tuan

Tuan, maafkan saya tak bisa membendung rasa. Tuan, maafkan saya tak bisa menengadahkan muka. Tuan, maafkan saya tak punya nyali untuk menyapa. Saya tahu, saya hanya debu. Yang tak akan pernah Tuan sadari. Saya tahu, saya hanya angin lalu. Yang tak akan pernah Tuan ingini. Tuan, saya tak bermakna,  Sangat tidak bagi Tuan. Saya hanya punya nama, namun Tuan tak bisa mengingatnya. Tuan, saya tak terlihat. Sangat tidak bagi Tuan. Saya hanya punya muka, namun Tuan tak mau melihatnya. Tuan, saya tak dicinta. Sangat mustahil bagi Tuan. Sebab saya punya rasa, namun Tuan hiraukan. Bahkan tak akan terjadi sebuah ikatan. Kepada Tuan, Sepenuh hati yang saya berikan, Tak akan ada arti yang Tuan balaskan.

Berempati

  Well, kebahagiaan orang lain bukan sepenuhnya tanggung jawab kita. Tapi, mengapa kita selalu merasa ikut bersalah, sedih, kecewa kalau teman atau sahabat kita juga demikian? Itu namanya empati. Empati bisa diartikan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memposisikan diri dalam keadaan yang dirasakan orang lain dan menghayati pengalaman tersebut untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain (Fitriyatun, Nopita, dan Muliyani, 2018). Empati bukan berarti kita enggak sadar posisi kita sebagai individu yang punya tanggung jawab atas diri kita sendiri. Tapi, kita hanya ikut merasa atau memposisikan kita untuk berada dalam keadaan yang kita dengar. Ya memang enggak mudah untuk merasakan demikian ya, karena setiap orang tentunya punya perasaan masing-masing dan bertanggung jawab atas perasaan itu. Sejauh ini yang dirasakan ketika berempati dengan orang lain tetap harus melihat keadaan diri sendiri. Buat komitmen dengan diri sendiri terlebih dahulu agar bisa menerima perasaan...