Langsung ke konten utama

Kepada: Tuan

Tuan, maafkan saya tak bisa membendung rasa.
Tuan, maafkan saya tak bisa menengadahkan muka.
Tuan, maafkan saya tak punya nyali untuk menyapa.

Saya tahu, saya hanya debu.
Yang tak akan pernah Tuan sadari.
Saya tahu, saya hanya angin lalu.
Yang tak akan pernah Tuan ingini.

Tuan, saya tak bermakna, 
Sangat tidak bagi Tuan.
Saya hanya punya nama, namun Tuan tak bisa mengingatnya.
Tuan, saya tak terlihat.
Sangat tidak bagi Tuan.
Saya hanya punya muka, namun Tuan tak mau melihatnya.
Tuan, saya tak dicinta.
Sangat mustahil bagi Tuan.
Sebab saya punya rasa, namun Tuan hiraukan.
Bahkan tak akan terjadi sebuah ikatan.

Kepada Tuan,
Sepenuh hati yang saya berikan,
Tak akan ada arti yang Tuan balaskan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam - malam

Aku selalu berpikir bahwa malam sangatlah menyenangkan. Mengajarkan untuk merenungi kejadian seharian, mengikhlaskan dan meleburkan hal - hal yang menjadi beban di hari itu. Malam pun tidak pernah lari meninggalkan diri ini menangis sampai tertidur, setia menemani sampai diri lelah dan menyadarkan bahwa esoknya ada hari baru yang harus di awali, diperbaiki, dan di isi. Malam sangat setia bahkan bagiku adalah waktu yang paling menyenangkan. Berdo'a sedalam - dalam perasaan hingga tangis memecah keheningan selalu bisa menjadi agenda. Memanjatkan harap di sepertiga malam juga adalah sebaik - baiknya. Gelapnya malam tercerahkan karena do'a yang amat menyala. Aku bisa menikmati hangatnya malam dari dinginnya. Aku bisa menikmati ramainya malam dari do'a - do'a yang beradu di kesunyiannya. Aku bisa menikmati tenangnya malam dari nyamannya menangis, tersenyum, berpikir, berimajinasi di sepanjang waktunya.

Usia 20-an

Muak karena menyusun latar belakang yang tidak kunjung usai, sepertinya menulis sedikit di laman ini akan menjadi hal yang menyenangkan, wkwkwk. Maksudnya, menyenangkan untuk curhat. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, semua perempuan. Bapak kerja di luar kota dan di rumah aku bersama mama dan adikku yang kedua. Lagi-lagi ceritanya klise ya, hehehe. Ya dilanjut aja ya. Nah, karena WFH ini membuatku semakin stres dibanding ketika hal apapun bisa dilakukan secara tatap muka. Ya karena aku melabeli diriku seorang ekstrovert jadi merasa bosan dengan kegiatan di sekitar rumah. Permasalahannya, ketika WFH secara otomatis kegiatan akan berlangsung di rumah dan pastinya akan terus bertemu anggota keluarga. Sebenarnya hal itu menyenangkan tapi juga menyebalkan. Intensitas berkomunikasi dan konflik sering banget terjadi, apalagi karena hal sepele. Well,  karena sudah berada di semester 7 alias semester agak tua, hal-hal kedepan terlihat abstrak, skripsi, sidang, wisuda, karir, akademik ...