Ya memang enggak mudah untuk merasakan demikian ya, karena setiap orang tentunya punya perasaan masing-masing dan bertanggung jawab atas perasaan itu. Sejauh ini yang dirasakan ketika berempati dengan orang lain tetap harus melihat keadaan diri sendiri. Buat komitmen dengan diri sendiri terlebih dahulu agar bisa menerima perasaan dari orang lain, perbaiki rasa dan hubungan dengan diri sendiri juga penting. Sebenarnya, rasa empati itu seiring berjalannya waktu akan berkembang ketika kita belajar mendengarkan orang lain, tentunya bukan cuma mendengarkan tapi sambil memahami. Menjadi pendengar yang baik bagi orang lain akan membuat diri kita juga belajar dari pengalaman orang tersebut, lalu membuat kita hati-hati dan sudah memahami langkah-langkah apa saja yang bisa kita terapkan ketika di keadaan yang sama, tentunya juga melihat kemampuan diri kita.
Terkadang, ketika berempati, kita merasakan hal yang sefrekuensi dengan orang yang kita dengarkan. Namun, hal itu juga bukan berarti kita membenarkan setiap sikap atau perkataan yang mereka sampaikan. Kita juga harus meluruskan pendapat yang memang dalam pandangan umum itu kurang tepat. Berempati juga terkadang menguras emosi, dalam hal ini kita harus bisa mengontrol diri sendiri ketika mulai merasakan kelelahan. Ambil waktu sejenak agar kita bisa netral dan emosi dari orang-orang tersebut tidak menjadi bumerang bagi diri kita.
Semua yang tertulis disini berdasarkan pengalaman, jadi apa pengalamanmu berempati? Mari renungkan kawan!
Sumber : Fitriatun, Erna & Nopita, Nopita & Muliyani, Sri. (2018). Karakter Empati Dalam Konseling Teman Sebaya Pada Masa Remaja. Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran. 4. 16. 10.33394/jk.v4i1.897.
Komentar
Posting Komentar