Langsung ke konten utama

Berempati

 



Well, kebahagiaan orang lain bukan sepenuhnya tanggung jawab kita. Tapi, mengapa kita selalu merasa ikut bersalah, sedih, kecewa kalau teman atau sahabat kita juga demikian? Itu namanya empati. Empati bisa diartikan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memposisikan diri dalam keadaan yang dirasakan orang lain dan menghayati pengalaman tersebut untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain (Fitriyatun, Nopita, dan Muliyani, 2018). Empati bukan berarti kita enggak sadar posisi kita sebagai individu yang punya tanggung jawab atas diri kita sendiri. Tapi, kita hanya ikut merasa atau memposisikan kita untuk berada dalam keadaan yang kita dengar.

Ya memang enggak mudah untuk merasakan demikian ya, karena setiap orang tentunya punya perasaan masing-masing dan bertanggung jawab atas perasaan itu. Sejauh ini yang dirasakan ketika berempati dengan orang lain tetap harus melihat keadaan diri sendiri. Buat komitmen dengan diri sendiri terlebih dahulu agar bisa menerima perasaan dari orang lain, perbaiki rasa dan hubungan dengan diri sendiri juga penting. Sebenarnya, rasa empati itu seiring berjalannya waktu akan berkembang ketika kita belajar mendengarkan orang lain, tentunya bukan cuma mendengarkan tapi sambil memahami. Menjadi pendengar yang baik bagi orang lain akan membuat diri kita juga belajar dari pengalaman orang tersebut, lalu membuat kita hati-hati dan sudah memahami langkah-langkah apa saja yang bisa kita terapkan ketika di keadaan yang sama, tentunya juga melihat kemampuan diri kita.

Terkadang, ketika berempati, kita merasakan hal yang sefrekuensi dengan orang yang kita dengarkan. Namun, hal itu juga bukan berarti kita membenarkan setiap sikap atau perkataan yang mereka sampaikan. Kita juga harus meluruskan pendapat yang memang dalam pandangan umum itu kurang tepat. Berempati juga terkadang menguras emosi, dalam hal ini kita harus bisa mengontrol diri sendiri ketika mulai merasakan kelelahan. Ambil waktu sejenak agar kita bisa netral dan emosi dari orang-orang tersebut tidak menjadi bumerang bagi diri kita.

Semua yang tertulis disini berdasarkan pengalaman, jadi apa pengalamanmu berempati? Mari renungkan kawan!




Sumber : Fitriatun, Erna & Nopita, Nopita & Muliyani, Sri. (2018). Karakter Empati Dalam Konseling Teman Sebaya Pada Masa Remaja. Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Pembelajaran. 4. 16. 10.33394/jk.v4i1.897. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orangtua Tahu Segalanya, Anak Muda Bodoh dan Tak Tahu Apa-Apa

 Ini adalah sebuah cerita yang terus terngiang dan meminta untuk dituliskan. Sebuah keluarga ibarat sedang mengendarai mobil, orangtua duduk di depan, ayah menyetir dan ibu duduk di sampingnya. Ketika di perjalanan menemui jalan yang salah atau bahkan buntu, ayah akan mengarahkan mobil ke jalan yg benar, jika masih saja tersesat, ayah akan menyarankan ibu atau malah ibu yg berinisiatif membuka peta untuk menunjukkan jalan kepada ayah. Tentunya sebelum itu seharusnya berunding satu sama lain. Bukan malah berteriak satu sama lain untuk melihat peta dan jalan mana yg paling benar. Dua orang anak yg duduk di kursi belakang akan merasa tenang ketika orangtuanya mampu kembali ke jalan yg benar tanpa keributan. Namun, dua anak tersebut akan kebingungan dan lelah selama perjalanan ketika orangtuanya berteriak satu sama lain dan tidak menghiraukan anaknya yang takut. Bahkan, ketika salah satu anak memberi saran yang bisa jadi membantu karena dia sudah berpengalaman, ibu berteriak dia sok pi...

Dan Akhirnya Jogjakarta Punya Cerita untuk Saya

3 Agustus 2019 Saya memberanikan diri pergi ke suatu daerah yang jarang saya kunjungi dengan membawa kendaraan sendiri terkecuali dengan rombongan teman-teman, pada siang itu saya mengajak teman  untuk menemani kenekad-an diri ke suatu daerah, awalnya saya berniat menguji kemampuan jam terbang mengendarai motor saya dan bertujuan mengunjungi suatu bazar buku terbesar yang diadakan di daerah tersebut.  Pukul 13.30 WIB saya berangkat bersama sahabat yaitu Gina. Ya sudah bisa tertebak dimana saya akan pergi, ke sebuah kota yang tak jauh dari Solo, jarak tempuhnya haya kurang lebih dua jam saja, dan saya berpikir bisa melewatinya. Ya saya pergi ke Jogjakarta. Kota yang bagi semua orang menyimpan cerita yang panjang, cerita yang indah dan menyentuh. Bagi mereka kota yang selalu menyimpan kenangan dan membuat mereka selalu ingin kembali kesana. Namun, mengapa saya belum merasakannya, bolak - balik saya mengunjunginya, perasaan saya merasa biasa saja, tidak pernah ada ras...

Usia 20-an

Muak karena menyusun latar belakang yang tidak kunjung usai, sepertinya menulis sedikit di laman ini akan menjadi hal yang menyenangkan, wkwkwk. Maksudnya, menyenangkan untuk curhat. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, semua perempuan. Bapak kerja di luar kota dan di rumah aku bersama mama dan adikku yang kedua. Lagi-lagi ceritanya klise ya, hehehe. Ya dilanjut aja ya. Nah, karena WFH ini membuatku semakin stres dibanding ketika hal apapun bisa dilakukan secara tatap muka. Ya karena aku melabeli diriku seorang ekstrovert jadi merasa bosan dengan kegiatan di sekitar rumah. Permasalahannya, ketika WFH secara otomatis kegiatan akan berlangsung di rumah dan pastinya akan terus bertemu anggota keluarga. Sebenarnya hal itu menyenangkan tapi juga menyebalkan. Intensitas berkomunikasi dan konflik sering banget terjadi, apalagi karena hal sepele. Well,  karena sudah berada di semester 7 alias semester agak tua, hal-hal kedepan terlihat abstrak, skripsi, sidang, wisuda, karir, akademik ...