Langsung ke konten utama

Kosong

Halo udah lama nggak nulis apapun ya. 
Kesini juga karena ini lagi "senggang" dan karena merasa harus menulis aja walaupun kontennya kurang berisi. Cuma pengen cerita ngalor ngidul aja sebenernya terus juga karena nggak ada teman yang bisa diajak diskusi alias curhat. Ya ngalir aja lah ya, biasanya juga begitu.
Oke semakin kesini karena sudah terbiasa buat sendirian apapun kegiatannya jadi emang sering mikir ke diri sendiri. Nah karena itulah jadi permasalahan tersendiri buatku. Nggak tau kenapa jadi hilang selera buat suka sama suatu hal terus tekun banget entah karena kurang dukungan atau gimana. Tapi, aku memang tipe yang konfirmatif, apa-apa harus konfirmasi sama orang lain dan jujur ini menyiksa karena posisinya sekarang bener-bener sendiri. Pemikiranku sekarang jadi harus bisa menentukan pilihan sendiri yuk bisa kalo nggak kurang-kurangin buat tanya,curhat,ngobrol panjang lebar ke orang. Oh apakah aku sudah menjadi anak introvert? Nggak juga sebenernya, sering merasa kesepian tapi emang udah nggak bisa bedain kesepian sama enggak huhuhu. Sampai mikir apa karena keseringan sendirian apapun dipendem sendiri, cerita sama yang lain juga merasa aku ga ada esensinya cerita hal itu karena dipandang sebagai lalu aja gitu.
Terus masalah yang aku rasakan juga tentang kenapa aku udah susah tertarik sama cowok lebih dalem, nggak tau kenapa kayak gitu. Aku merasa yaudah cuek aja. Tapi disisi lain merasa agak aneh, nggak ada orang yang harus dikejar, nggak ada orang yang ditunggu-tunggu, nggak ada motivasi buat ngejar jadi kayak datar aja. Dan jujur kosong kayak gini rasanya aneh karena datar banget. Nggak ada juga yang ngejar aku apalagi mendekat wkwkwk. Ya kadang mikir emang belum waktunya kalik ya tapi udah berapa bulan ya sendirian ga ada support system alias doi. Hampir satu tahun. Pencapaian yang hebat sih menurutku. Jadi intinya, aku pengen ada temen yang support karena dia mau buat ada bukan aku paksa buat selalu ada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam - malam

Aku selalu berpikir bahwa malam sangatlah menyenangkan. Mengajarkan untuk merenungi kejadian seharian, mengikhlaskan dan meleburkan hal - hal yang menjadi beban di hari itu. Malam pun tidak pernah lari meninggalkan diri ini menangis sampai tertidur, setia menemani sampai diri lelah dan menyadarkan bahwa esoknya ada hari baru yang harus di awali, diperbaiki, dan di isi. Malam sangat setia bahkan bagiku adalah waktu yang paling menyenangkan. Berdo'a sedalam - dalam perasaan hingga tangis memecah keheningan selalu bisa menjadi agenda. Memanjatkan harap di sepertiga malam juga adalah sebaik - baiknya. Gelapnya malam tercerahkan karena do'a yang amat menyala. Aku bisa menikmati hangatnya malam dari dinginnya. Aku bisa menikmati ramainya malam dari do'a - do'a yang beradu di kesunyiannya. Aku bisa menikmati tenangnya malam dari nyamannya menangis, tersenyum, berpikir, berimajinasi di sepanjang waktunya.

Kepada: Tuan

Tuan, maafkan saya tak bisa membendung rasa. Tuan, maafkan saya tak bisa menengadahkan muka. Tuan, maafkan saya tak punya nyali untuk menyapa. Saya tahu, saya hanya debu. Yang tak akan pernah Tuan sadari. Saya tahu, saya hanya angin lalu. Yang tak akan pernah Tuan ingini. Tuan, saya tak bermakna,  Sangat tidak bagi Tuan. Saya hanya punya nama, namun Tuan tak bisa mengingatnya. Tuan, saya tak terlihat. Sangat tidak bagi Tuan. Saya hanya punya muka, namun Tuan tak mau melihatnya. Tuan, saya tak dicinta. Sangat mustahil bagi Tuan. Sebab saya punya rasa, namun Tuan hiraukan. Bahkan tak akan terjadi sebuah ikatan. Kepada Tuan, Sepenuh hati yang saya berikan, Tak akan ada arti yang Tuan balaskan.

Usia 20-an

Muak karena menyusun latar belakang yang tidak kunjung usai, sepertinya menulis sedikit di laman ini akan menjadi hal yang menyenangkan, wkwkwk. Maksudnya, menyenangkan untuk curhat. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, semua perempuan. Bapak kerja di luar kota dan di rumah aku bersama mama dan adikku yang kedua. Lagi-lagi ceritanya klise ya, hehehe. Ya dilanjut aja ya. Nah, karena WFH ini membuatku semakin stres dibanding ketika hal apapun bisa dilakukan secara tatap muka. Ya karena aku melabeli diriku seorang ekstrovert jadi merasa bosan dengan kegiatan di sekitar rumah. Permasalahannya, ketika WFH secara otomatis kegiatan akan berlangsung di rumah dan pastinya akan terus bertemu anggota keluarga. Sebenarnya hal itu menyenangkan tapi juga menyebalkan. Intensitas berkomunikasi dan konflik sering banget terjadi, apalagi karena hal sepele. Well,  karena sudah berada di semester 7 alias semester agak tua, hal-hal kedepan terlihat abstrak, skripsi, sidang, wisuda, karir, akademik ...