Langsung ke konten utama

Untuk Seseorang yang Hadir di Mimpi

Sepertinya bawah sadarku paham, kamu bukan rekaan.

Kamu tersimpan di memori, mungkin terlalu dalam, atau aku tidak menyadarinya?

Kita sudah lama bersua, bersama, namun hanya kesadaran tak menemui titik terangnya.


Pada hari-hari sebelumnya, aku berpikir sama.

Kamu akan menjadi kamu dan aku akan selalu seperti ini.

Pikiranku tak akan berubah dan perasaanku tak akan berpindah arah.


Namun, sepercik api akan membesar sewaktu-waktu.

Kewarasan tak akan mempan menjawab perasaan.

Logika lemah tak punya daya.

Benar adanya, kamu sudah ada sejak lama, hanya saja kamu ku tepis beribu kali.


Sesendok krim pendingin di malam itu, membuka kesadaranku.

Bahwa selama ini kamu selalu peduli, dalam sendu atau sunyi.

Memang terkadang caramu menyebalkan, sangat menyebalkan.

Tapi entah mengapa aku rindu.


Kamu dan aku itu semu.

Mungkin tak akan menjadi padu.

Bahkan mungkin rasa ini tak akan bertemu.

Sejak kau hadir di alam bawah sadarku, do'aku selalu ku rapal untukmu.


Sukoharjo, 31 Agustus 2020

22.15 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam - malam

Aku selalu berpikir bahwa malam sangatlah menyenangkan. Mengajarkan untuk merenungi kejadian seharian, mengikhlaskan dan meleburkan hal - hal yang menjadi beban di hari itu. Malam pun tidak pernah lari meninggalkan diri ini menangis sampai tertidur, setia menemani sampai diri lelah dan menyadarkan bahwa esoknya ada hari baru yang harus di awali, diperbaiki, dan di isi. Malam sangat setia bahkan bagiku adalah waktu yang paling menyenangkan. Berdo'a sedalam - dalam perasaan hingga tangis memecah keheningan selalu bisa menjadi agenda. Memanjatkan harap di sepertiga malam juga adalah sebaik - baiknya. Gelapnya malam tercerahkan karena do'a yang amat menyala. Aku bisa menikmati hangatnya malam dari dinginnya. Aku bisa menikmati ramainya malam dari do'a - do'a yang beradu di kesunyiannya. Aku bisa menikmati tenangnya malam dari nyamannya menangis, tersenyum, berpikir, berimajinasi di sepanjang waktunya.

Kepada: Tuan

Tuan, maafkan saya tak bisa membendung rasa. Tuan, maafkan saya tak bisa menengadahkan muka. Tuan, maafkan saya tak punya nyali untuk menyapa. Saya tahu, saya hanya debu. Yang tak akan pernah Tuan sadari. Saya tahu, saya hanya angin lalu. Yang tak akan pernah Tuan ingini. Tuan, saya tak bermakna,  Sangat tidak bagi Tuan. Saya hanya punya nama, namun Tuan tak bisa mengingatnya. Tuan, saya tak terlihat. Sangat tidak bagi Tuan. Saya hanya punya muka, namun Tuan tak mau melihatnya. Tuan, saya tak dicinta. Sangat mustahil bagi Tuan. Sebab saya punya rasa, namun Tuan hiraukan. Bahkan tak akan terjadi sebuah ikatan. Kepada Tuan, Sepenuh hati yang saya berikan, Tak akan ada arti yang Tuan balaskan.

Usia 20-an

Muak karena menyusun latar belakang yang tidak kunjung usai, sepertinya menulis sedikit di laman ini akan menjadi hal yang menyenangkan, wkwkwk. Maksudnya, menyenangkan untuk curhat. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, semua perempuan. Bapak kerja di luar kota dan di rumah aku bersama mama dan adikku yang kedua. Lagi-lagi ceritanya klise ya, hehehe. Ya dilanjut aja ya. Nah, karena WFH ini membuatku semakin stres dibanding ketika hal apapun bisa dilakukan secara tatap muka. Ya karena aku melabeli diriku seorang ekstrovert jadi merasa bosan dengan kegiatan di sekitar rumah. Permasalahannya, ketika WFH secara otomatis kegiatan akan berlangsung di rumah dan pastinya akan terus bertemu anggota keluarga. Sebenarnya hal itu menyenangkan tapi juga menyebalkan. Intensitas berkomunikasi dan konflik sering banget terjadi, apalagi karena hal sepele. Well,  karena sudah berada di semester 7 alias semester agak tua, hal-hal kedepan terlihat abstrak, skripsi, sidang, wisuda, karir, akademik ...