Langsung ke konten utama

Kedamaian

Sejauh ini menyadari kadang manusia hanya kesepian, atau sebenarnya memang butuh cinta. Tapi, yang dirasakan keduanya. Saat seseorang tertawa begitu lantang ternyata banyak yang disembunyikan ya, wkwkwk.

Dan memang sesama manusia tidak akan selalu paham satu dengan yang lain, yang paling bisa memahami hanya diri sendiri. Tapi kadang pertanyaan muncul, "Siapa aku?". Mirisnya, seseorang selalu tidak memahami dirinya sendiri. Ya memang butuh manusia lain yang bisa membantu mengenali diri sendiri, tapi sejujurnya aku memahami bahwa aku tidak bisa selalu bergantung dengan orang lain. Aku selalu berpikir, jangan memperlihatkan sisi lemah di depan orang lain. Selalu saja membuat "pertahanan diri" yang sebenarnya hanya membuat lelah. Menjadi profesional bukanlah hal yang mudah, 60% dari diriku sangat profesional sisanya? Terdengar lebih seperti kepura-puraan yang terkemas rapi. Hal terkacau yang pernah aku tunjukkan hanya menangis ketika lelah di depan beberapa orang dan hanya satu atau dua orang yang ku beri alasan. Ingin sekali berterimakasih kepada sahabatku, pada saat menjabat menjadi ketua osis dan terhitung sampai sekarang, dia selalu paham mengapa aku tiba-tiba menangis tanpa sebab, dia sangat paham ketika aku sedang tidak baik-baik saja. Berterimakasih kepada sahabat lain yang saat itu menawarkan bantuan meminjamkan gawainya ketika aku panik di kala liburan dan mendengar bahwa sekitar rumahku terkena angin puting beliung dan di saat itu pula bersamaan aku sedih dan kaget ketika orang lain membentakku, ah hal-hal baik itu akan selalu tersimpan, kawan. Setiap kali aku membutuhkan teman, hampir semua sahabatku mengiyakan, betapa bersyukurnya aku. Mereka semua ada, jatuh atau bangkitnya aku dan tidak bisa ku sebutkan satu persatu. 

Namun, tidak bisa ku pungkiri, aku memang kesepian. Kadang merasa tak berguna karena tidak bisa melakukan hal-hal yang benar. Seperti apapun yang sudah diusahakan hanya akan sia-sia. Ada saat-saat aku merasa lelah karena terlalu peduli pada suatu pekerjaan, padahal orang lain saja tidak memikirkannya. Tapi, sisi baik di dalam diri mengatakan suatu saat nanti itu akan berguna, tenanglah. Beberapa pikiran tersebut tersadar karena sahabat sebangku SMA ku. Memang masa SMA, bagiku sangat menyenangkan, kali ini aku menangis melihat video ku yang sedang tertawa, ah miris. Benar bahwa "People change, but memories don't". Aku benar-benar ingin kembali ke memori dimana sekretariat OSIS menjadi tempat pulangku setiap lelah dengan pelajaran. Tertawa karena hal-hal konyol dan tidak masuk akal. Menangis karena marah dan kesal. Berkumpul dengan semua teman-teman. Ya, walaupun tidak semua kenangan baik namun bagiku itu berarti. Terhitung beberapa kali aku sering menangis karena hal sepele. Ah, lucunya.
Untuk semua orang yang masuk dalam ceritaku dahulu, terimakasih sudah membersamaiku. 

Di dalam kenangan,
Sukoharjo 00.30 WIB
Teruntuk diriku sendiri, berdamailah dengan dirimu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orangtua Tahu Segalanya, Anak Muda Bodoh dan Tak Tahu Apa-Apa

 Ini adalah sebuah cerita yang terus terngiang dan meminta untuk dituliskan. Sebuah keluarga ibarat sedang mengendarai mobil, orangtua duduk di depan, ayah menyetir dan ibu duduk di sampingnya. Ketika di perjalanan menemui jalan yang salah atau bahkan buntu, ayah akan mengarahkan mobil ke jalan yg benar, jika masih saja tersesat, ayah akan menyarankan ibu atau malah ibu yg berinisiatif membuka peta untuk menunjukkan jalan kepada ayah. Tentunya sebelum itu seharusnya berunding satu sama lain. Bukan malah berteriak satu sama lain untuk melihat peta dan jalan mana yg paling benar. Dua orang anak yg duduk di kursi belakang akan merasa tenang ketika orangtuanya mampu kembali ke jalan yg benar tanpa keributan. Namun, dua anak tersebut akan kebingungan dan lelah selama perjalanan ketika orangtuanya berteriak satu sama lain dan tidak menghiraukan anaknya yang takut. Bahkan, ketika salah satu anak memberi saran yang bisa jadi membantu karena dia sudah berpengalaman, ibu berteriak dia sok pi...

Dan Akhirnya Jogjakarta Punya Cerita untuk Saya

3 Agustus 2019 Saya memberanikan diri pergi ke suatu daerah yang jarang saya kunjungi dengan membawa kendaraan sendiri terkecuali dengan rombongan teman-teman, pada siang itu saya mengajak teman  untuk menemani kenekad-an diri ke suatu daerah, awalnya saya berniat menguji kemampuan jam terbang mengendarai motor saya dan bertujuan mengunjungi suatu bazar buku terbesar yang diadakan di daerah tersebut.  Pukul 13.30 WIB saya berangkat bersama sahabat yaitu Gina. Ya sudah bisa tertebak dimana saya akan pergi, ke sebuah kota yang tak jauh dari Solo, jarak tempuhnya haya kurang lebih dua jam saja, dan saya berpikir bisa melewatinya. Ya saya pergi ke Jogjakarta. Kota yang bagi semua orang menyimpan cerita yang panjang, cerita yang indah dan menyentuh. Bagi mereka kota yang selalu menyimpan kenangan dan membuat mereka selalu ingin kembali kesana. Namun, mengapa saya belum merasakannya, bolak - balik saya mengunjunginya, perasaan saya merasa biasa saja, tidak pernah ada ras...

Usia 20-an

Muak karena menyusun latar belakang yang tidak kunjung usai, sepertinya menulis sedikit di laman ini akan menjadi hal yang menyenangkan, wkwkwk. Maksudnya, menyenangkan untuk curhat. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, semua perempuan. Bapak kerja di luar kota dan di rumah aku bersama mama dan adikku yang kedua. Lagi-lagi ceritanya klise ya, hehehe. Ya dilanjut aja ya. Nah, karena WFH ini membuatku semakin stres dibanding ketika hal apapun bisa dilakukan secara tatap muka. Ya karena aku melabeli diriku seorang ekstrovert jadi merasa bosan dengan kegiatan di sekitar rumah. Permasalahannya, ketika WFH secara otomatis kegiatan akan berlangsung di rumah dan pastinya akan terus bertemu anggota keluarga. Sebenarnya hal itu menyenangkan tapi juga menyebalkan. Intensitas berkomunikasi dan konflik sering banget terjadi, apalagi karena hal sepele. Well,  karena sudah berada di semester 7 alias semester agak tua, hal-hal kedepan terlihat abstrak, skripsi, sidang, wisuda, karir, akademik ...