Langsung ke konten utama

Pangeran Mimpi

        Aku pergi ke sekolah lain untuk menunggu pengumuman hasil lomba, disana ada sekumpulan siswa dan aku menebak mereka panitia. Di sekolah ini aku mengenal seorang sahabat dan dia memang menemaniku selama disini. Selama menunggu hasil, pandangan siswa lain terlihat menerka karena aku memakai seragam yang berbeda. Sahabatku berkata untuk mengabaikan mereka saja. Ya aku memang tidak begitu peduli dengan pandangan siswa di sekolah ini tapi semakin lama aku merasa risih. Akhirnya, aku memutuskan melihat pameran yang ada di aula, disanalah juga terpampang nyata karyaku yang sedang aku lombakan. Ketika melihat ke satu karya, disebelahku berdiri seorang siswa laki-laki bertubuh tinggi ideal dengan potongan rambut A1 memakai seragam OSIS. Sejurus kemudian, seorang siswa perempuan menyusulnya. Aku tidak terlalu peduli dengan kehadiran mereka. Namun, saat aku berbalik arah, laki-laki itu menatapku, kami bertemu mata sebentar dan aku hanya mengangguk lalu pergi. Aku berjalan pergi dan mendengar sayup-sayup suara perempuan itu protes kepadanya untuk tidak genit. Ah, entahlah, aku pun tidak ingin memusingkan hubungan mereka. 

        Setelah menunggu 2 jam, sembari memakan snack bersama sahabatku. Aku duduk di bawah pohon. Aku akui sekolah ini sangat rindang, sejuk, dan luas sekali. Hari ini juga sangat ramai karena memang lomba ini digelar bersamaan dengan akhir semester. Akhirnya waktu yang ku tunggu-tunggu, pengumuman lomba sudah di depan mata. Sekalipun aku sudah berkali-kali mengikuti lomba ini tetap saja aku berdebar. Aku mendengar namaku diucapkan dengan lantang dan berada di peringkat 1. Seketika aku berjalan menuju panggung melakukan serangkaian seremonial juara. Lalu aku diarahkan untuk pergi ke aula. Ternyata, laki-laki yang ku temui sebelumnya itu yang menjadi pemanduku. Dia memperkenalkan diri dengan tersenyum, namanya Kenzi. Dia menyampaikan kepadaku untuk meminta kesediaanku memberikan karyaku ke sekolahnya sebagai kenang-kenangan. Aku iyakan agar aku bisa cepat pulang. Tidak begitu lama kami mengobrol berdua, sahabatku datang memberi selamat dan membawa bunga. Kenzi menawarkan aku dan sahabatku berfoto berdua di depan karyaku dan sahabatku sangat bersemangat sekali mengiyakan tawarannya. Kami berfoto beberapa kali. Lalu, entah apa yang sahabatku pikirkan, sahabatku meminta Kenzi berganti peran untuk berfoto. Dia tertegun sebentar dan kikuk. Sahabatku meraih kamera yang dibawa Kenzi dan mendorong Kenzi untuk berdiri di sebelahku. Berkali-kali, aku tidak merasa begitu peduli dan hanya tersenyum saat di foto. Dia memberiku selamat untuk yang kedua kali dan menyampaikan akan mengirim fotonya kepadaku. Aku pikir ah itu modus saja dan aku mengarahkan agar dia mengirim foto melalui sahabatku saja. Dia mengiyakan, namun sahabatku merasa sedih dengan jawabanku bahkan terang-terangan menyampaikan di depan aku dan Kenzi. Dengan merasa terpaksa aku memberi salah satu akun sosial media yang ku punya. Setelah berjalan mengelilingi sekolah bersama sahabatku dan Kenzi, aku pamit untuk pulang. 

        Memang Kenzi amat manis dan sopan. Terasa naif kalau aku tidak memperhatikannya. Tapi, apakah mungkin rasa secepat itu datang hanya karena sebuah sikap dan tatapan hangat? Jawabannya, sangat mungkin.


Cerita ini aku tulis berdasarkan mimpi yang aku alami semalam. Karena latar sekolah ini sudah berkali-kali muncul di mimpiku, akhirnya aku tulis saja. Sebagian besar dari isi cerita ini sama persis yang ada di mimpi. Perawakan tubuh, sikap, nama, latar tempat dan waktu. Selebihnya itu, aku perjelas agar menjadi padu.

20 Januari 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orangtua Tahu Segalanya, Anak Muda Bodoh dan Tak Tahu Apa-Apa

 Ini adalah sebuah cerita yang terus terngiang dan meminta untuk dituliskan. Sebuah keluarga ibarat sedang mengendarai mobil, orangtua duduk di depan, ayah menyetir dan ibu duduk di sampingnya. Ketika di perjalanan menemui jalan yang salah atau bahkan buntu, ayah akan mengarahkan mobil ke jalan yg benar, jika masih saja tersesat, ayah akan menyarankan ibu atau malah ibu yg berinisiatif membuka peta untuk menunjukkan jalan kepada ayah. Tentunya sebelum itu seharusnya berunding satu sama lain. Bukan malah berteriak satu sama lain untuk melihat peta dan jalan mana yg paling benar. Dua orang anak yg duduk di kursi belakang akan merasa tenang ketika orangtuanya mampu kembali ke jalan yg benar tanpa keributan. Namun, dua anak tersebut akan kebingungan dan lelah selama perjalanan ketika orangtuanya berteriak satu sama lain dan tidak menghiraukan anaknya yang takut. Bahkan, ketika salah satu anak memberi saran yang bisa jadi membantu karena dia sudah berpengalaman, ibu berteriak dia sok pi...

Dan Akhirnya Jogjakarta Punya Cerita untuk Saya

3 Agustus 2019 Saya memberanikan diri pergi ke suatu daerah yang jarang saya kunjungi dengan membawa kendaraan sendiri terkecuali dengan rombongan teman-teman, pada siang itu saya mengajak teman  untuk menemani kenekad-an diri ke suatu daerah, awalnya saya berniat menguji kemampuan jam terbang mengendarai motor saya dan bertujuan mengunjungi suatu bazar buku terbesar yang diadakan di daerah tersebut.  Pukul 13.30 WIB saya berangkat bersama sahabat yaitu Gina. Ya sudah bisa tertebak dimana saya akan pergi, ke sebuah kota yang tak jauh dari Solo, jarak tempuhnya haya kurang lebih dua jam saja, dan saya berpikir bisa melewatinya. Ya saya pergi ke Jogjakarta. Kota yang bagi semua orang menyimpan cerita yang panjang, cerita yang indah dan menyentuh. Bagi mereka kota yang selalu menyimpan kenangan dan membuat mereka selalu ingin kembali kesana. Namun, mengapa saya belum merasakannya, bolak - balik saya mengunjunginya, perasaan saya merasa biasa saja, tidak pernah ada ras...

Usia 20-an

Muak karena menyusun latar belakang yang tidak kunjung usai, sepertinya menulis sedikit di laman ini akan menjadi hal yang menyenangkan, wkwkwk. Maksudnya, menyenangkan untuk curhat. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, semua perempuan. Bapak kerja di luar kota dan di rumah aku bersama mama dan adikku yang kedua. Lagi-lagi ceritanya klise ya, hehehe. Ya dilanjut aja ya. Nah, karena WFH ini membuatku semakin stres dibanding ketika hal apapun bisa dilakukan secara tatap muka. Ya karena aku melabeli diriku seorang ekstrovert jadi merasa bosan dengan kegiatan di sekitar rumah. Permasalahannya, ketika WFH secara otomatis kegiatan akan berlangsung di rumah dan pastinya akan terus bertemu anggota keluarga. Sebenarnya hal itu menyenangkan tapi juga menyebalkan. Intensitas berkomunikasi dan konflik sering banget terjadi, apalagi karena hal sepele. Well,  karena sudah berada di semester 7 alias semester agak tua, hal-hal kedepan terlihat abstrak, skripsi, sidang, wisuda, karir, akademik ...