"Kita pernah asing lalu menjadi bising. Dan kemudian setelah ku akui suatu hal yang membuatku terusik karena kita menjadi terlalu asik. Akhirnya asing menjadi teman setia lagi dan lagi"
(Eska, 2019)
(Eska, 2019)
Kamu pelabuhan yang dulu ada pernah dan aku kisahkan, kembali lagi hangat dua hari yang lalu. Entah mengapa kamu menjadi asik lagi setelah mengabaikanku sekian lama. Tidak lama sebenarnya mungkin hanya satu sampai dua minggu. Tapi aku merasa itu menyiksa hahaha. Selalu dungu memang.
Tidak tahu alasan apa yang membuatmu bersikap seperti itu, namun aku suka karena kamu lucu, tidak mengabaikanku, dan terlebih kau mengirim lagi foto kepadaku tentang laut, dermaga, kapal, semua hal yang aku senangi dari dulu.
Betapa aku seperti menemukan kawan lama yang tak pernah bersua.
Lagi - lagi sebelum itu aku merasakan rindu, dan sumpah aku merasa lara. Tapi apa daya aku hanya bisa lirih sampai mata ini berbuih. Dan itu sikap bodoh yang selalu aku ulang.
Aku dan kamu berbincang lama melalui aplikasi pesan singkat. Lucunya jawabanmu tak selalu singkat. Dan obrolan itu berlanjut semalaman dan seharian.
Aku bingung definisi dan perbedaan antara dermaga dan pelabuhan, sejauh ini kau ku temui di keduanya; namun tak dihadapanku, di ujung rinduku, atau di lemahnya harapanku.
Kamu pelabuhan yang selalu ku jaga agar kapalmu berlayar dengan aman.
Kamu juga dermaga yang lama ku tunggui agar kapal layarmu selalu baik - baik saja.
Entah salah dibagian mana, aku berujar tentang rinduku yang selalu mengejar. Namun responmu selalu bisa ku tebak. Dan akhirnya kau mengabaikanku lagi. Sedikit lega karena rinduku tersampaikan walaupun tidak terbalaskan.
Hanya menghela napas karena kesekian kalinya kamu mengabaikanku hanya karena perasaan yang searah ini.
Ah sudahlah, kau hanya bisa ku doakan, jika memang Tuhan menakdirkan, kita bisa apa? Pertemuan atau perpisahan itu hanyalah sebuah kisah kecil dalam luasnya semesta.
Tidak tahu alasan apa yang membuatmu bersikap seperti itu, namun aku suka karena kamu lucu, tidak mengabaikanku, dan terlebih kau mengirim lagi foto kepadaku tentang laut, dermaga, kapal, semua hal yang aku senangi dari dulu.
Betapa aku seperti menemukan kawan lama yang tak pernah bersua.
Lagi - lagi sebelum itu aku merasakan rindu, dan sumpah aku merasa lara. Tapi apa daya aku hanya bisa lirih sampai mata ini berbuih. Dan itu sikap bodoh yang selalu aku ulang.
Aku dan kamu berbincang lama melalui aplikasi pesan singkat. Lucunya jawabanmu tak selalu singkat. Dan obrolan itu berlanjut semalaman dan seharian.
Aku bingung definisi dan perbedaan antara dermaga dan pelabuhan, sejauh ini kau ku temui di keduanya; namun tak dihadapanku, di ujung rinduku, atau di lemahnya harapanku.
Kamu pelabuhan yang selalu ku jaga agar kapalmu berlayar dengan aman.
Kamu juga dermaga yang lama ku tunggui agar kapal layarmu selalu baik - baik saja.
Entah salah dibagian mana, aku berujar tentang rinduku yang selalu mengejar. Namun responmu selalu bisa ku tebak. Dan akhirnya kau mengabaikanku lagi. Sedikit lega karena rinduku tersampaikan walaupun tidak terbalaskan.
Hanya menghela napas karena kesekian kalinya kamu mengabaikanku hanya karena perasaan yang searah ini.
Ah sudahlah, kau hanya bisa ku doakan, jika memang Tuhan menakdirkan, kita bisa apa? Pertemuan atau perpisahan itu hanyalah sebuah kisah kecil dalam luasnya semesta.
Terimakasih kapal yang sama telah berkunjung lagi di dermaga yang lama.
Dari Jawa Tengah, 29 Juni 2019;
untuk Bira 28 Juni 2019.
Dari Jawa Tengah, 29 Juni 2019;
untuk Bira 28 Juni 2019.
Tetap semangat untuk melaut!
Komentar
Posting Komentar