Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Ironis Sendiri

Menaruh rasa dengan seseorang yang katanya setia, nyatanya tak terbukti. Menaruh rasa dengan sahabat, nyatanya sakit sendiri. Menaruh rasa dengan seorang pengumpat, nyatanya miris sekali. Menaruh rasa dengan seorang penyair, nyatanya di pandang tak ada arti. Ironis dan miris. Berkali-kali jatuh cinta sendiri. Berkali-kali menyukai sendiri. Hanya satu arah dan tak ada balasan baik yang kembali. Semenyedihkan itu rasa yang dipunya. Memang lebih baiknya, disimpan untuk diri sendiri saja.

Kepada: Tuan

Tuan, maafkan saya tak bisa membendung rasa. Tuan, maafkan saya tak bisa menengadahkan muka. Tuan, maafkan saya tak punya nyali untuk menyapa. Saya tahu, saya hanya debu. Yang tak akan pernah Tuan sadari. Saya tahu, saya hanya angin lalu. Yang tak akan pernah Tuan ingini. Tuan, saya tak bermakna,  Sangat tidak bagi Tuan. Saya hanya punya nama, namun Tuan tak bisa mengingatnya. Tuan, saya tak terlihat. Sangat tidak bagi Tuan. Saya hanya punya muka, namun Tuan tak mau melihatnya. Tuan, saya tak dicinta. Sangat mustahil bagi Tuan. Sebab saya punya rasa, namun Tuan hiraukan. Bahkan tak akan terjadi sebuah ikatan. Kepada Tuan, Sepenuh hati yang saya berikan, Tak akan ada arti yang Tuan balaskan.

Berempati

  Well, kebahagiaan orang lain bukan sepenuhnya tanggung jawab kita. Tapi, mengapa kita selalu merasa ikut bersalah, sedih, kecewa kalau teman atau sahabat kita juga demikian? Itu namanya empati. Empati bisa diartikan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memposisikan diri dalam keadaan yang dirasakan orang lain dan menghayati pengalaman tersebut untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain (Fitriyatun, Nopita, dan Muliyani, 2018). Empati bukan berarti kita enggak sadar posisi kita sebagai individu yang punya tanggung jawab atas diri kita sendiri. Tapi, kita hanya ikut merasa atau memposisikan kita untuk berada dalam keadaan yang kita dengar. Ya memang enggak mudah untuk merasakan demikian ya, karena setiap orang tentunya punya perasaan masing-masing dan bertanggung jawab atas perasaan itu. Sejauh ini yang dirasakan ketika berempati dengan orang lain tetap harus melihat keadaan diri sendiri. Buat komitmen dengan diri sendiri terlebih dahulu agar bisa menerima perasaan...

Usia 20-an

Muak karena menyusun latar belakang yang tidak kunjung usai, sepertinya menulis sedikit di laman ini akan menjadi hal yang menyenangkan, wkwkwk. Maksudnya, menyenangkan untuk curhat. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, semua perempuan. Bapak kerja di luar kota dan di rumah aku bersama mama dan adikku yang kedua. Lagi-lagi ceritanya klise ya, hehehe. Ya dilanjut aja ya. Nah, karena WFH ini membuatku semakin stres dibanding ketika hal apapun bisa dilakukan secara tatap muka. Ya karena aku melabeli diriku seorang ekstrovert jadi merasa bosan dengan kegiatan di sekitar rumah. Permasalahannya, ketika WFH secara otomatis kegiatan akan berlangsung di rumah dan pastinya akan terus bertemu anggota keluarga. Sebenarnya hal itu menyenangkan tapi juga menyebalkan. Intensitas berkomunikasi dan konflik sering banget terjadi, apalagi karena hal sepele. Well,  karena sudah berada di semester 7 alias semester agak tua, hal-hal kedepan terlihat abstrak, skripsi, sidang, wisuda, karir, akademik ...

Kedamaian

Sejauh ini menyadari kadang manusia hanya kesepian, atau sebenarnya memang butuh cinta. Tapi, yang dirasakan keduanya. Saat seseorang tertawa begitu lantang ternyata banyak yang disembunyikan ya, wkwkwk. Dan memang sesama manusia tidak akan selalu paham satu dengan yang lain, yang paling bisa memahami hanya diri sendiri. Tapi kadang pertanyaan muncul, "Siapa aku?". Mirisnya, seseorang selalu tidak memahami dirinya sendiri. Ya memang butuh manusia lain yang bisa membantu mengenali diri sendiri, tapi sejujurnya aku memahami bahwa aku tidak bisa selalu bergantung dengan orang lain. Aku selalu berpikir, jangan memperlihatkan sisi lemah di depan orang lain. Selalu saja membuat "pertahanan diri" yang sebenarnya hanya membuat lelah. Menjadi profesional bukanlah hal yang mudah, 60% dari diriku sangat profesional sisanya? Terdengar lebih seperti kepura-puraan yang terkemas rapi. Hal terkacau yang pernah aku tunjukkan hanya menangis ketika lelah di depan beberapa orang dan ha...

Untuk Seseorang yang Hadir di Mimpi

Sepertinya bawah sadarku paham, kamu bukan rekaan. Kamu tersimpan di memori, mungkin terlalu dalam, atau aku tidak menyadarinya? Kita sudah lama bersua, bersama, namun hanya kesadaran tak menemui titik terangnya. Pada hari-hari sebelumnya, aku berpikir sama. Kamu akan menjadi kamu dan aku akan selalu seperti ini. Pikiranku tak akan berubah dan perasaanku tak akan berpindah arah. Namun, sepercik api akan membesar sewaktu-waktu. Kewarasan tak akan mempan menjawab perasaan. Logika lemah tak punya daya. Benar adanya, kamu sudah ada sejak lama, hanya saja kamu ku tepis beribu kali. Sesendok krim pendingin di malam itu, membuka kesadaranku. Bahwa selama ini kamu selalu peduli, dalam sendu atau sunyi. Memang terkadang caramu menyebalkan, sangat menyebalkan. Tapi entah mengapa aku rindu. Kamu dan aku itu semu. Mungkin tak akan menjadi padu. Bahkan mungkin rasa ini tak akan bertemu. Sejak kau hadir di alam bawah sadarku, do'aku selalu ku rapal untukmu. Sukoharjo, 31 Agustus 2020 22.15 WIB

Kosong

Halo udah lama nggak nulis apapun ya.  Kesini juga karena ini lagi "senggang" dan karena merasa harus menulis aja walaupun kontennya kurang berisi. Cuma pengen cerita ngalor ngidul aja sebenernya terus juga karena nggak ada teman yang bisa diajak diskusi alias curhat. Ya ngalir aja lah ya, biasanya juga begitu. Oke semakin kesini karena sudah terbiasa buat sendirian apapun kegiatannya jadi emang sering mikir ke diri sendiri. Nah karena itulah jadi permasalahan tersendiri buatku. Nggak tau kenapa jadi hilang selera buat suka sama suatu hal terus tekun banget entah karena kurang dukungan atau gimana. Tapi, aku memang tipe yang konfirmatif, apa-apa harus konfirmasi sama orang lain dan jujur ini menyiksa karena posisinya sekarang bener-bener sendiri. Pemikiranku sekarang jadi harus bisa menentukan pilihan sendiri yuk bisa kalo nggak kurang-kurangin buat tanya,curhat,ngobrol panjang lebar ke orang. Oh apakah aku sudah menjadi anak introvert? Nggak juga sebenernya, sering mera...