Langsung ke konten utama

Postingan

Usia 20-an

Muak karena menyusun latar belakang yang tidak kunjung usai, sepertinya menulis sedikit di laman ini akan menjadi hal yang menyenangkan, wkwkwk. Maksudnya, menyenangkan untuk curhat. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, semua perempuan. Bapak kerja di luar kota dan di rumah aku bersama mama dan adikku yang kedua. Lagi-lagi ceritanya klise ya, hehehe. Ya dilanjut aja ya. Nah, karena WFH ini membuatku semakin stres dibanding ketika hal apapun bisa dilakukan secara tatap muka. Ya karena aku melabeli diriku seorang ekstrovert jadi merasa bosan dengan kegiatan di sekitar rumah. Permasalahannya, ketika WFH secara otomatis kegiatan akan berlangsung di rumah dan pastinya akan terus bertemu anggota keluarga. Sebenarnya hal itu menyenangkan tapi juga menyebalkan. Intensitas berkomunikasi dan konflik sering banget terjadi, apalagi karena hal sepele. Well,  karena sudah berada di semester 7 alias semester agak tua, hal-hal kedepan terlihat abstrak, skripsi, sidang, wisuda, karir, akademik ...

Kedamaian

Sejauh ini menyadari kadang manusia hanya kesepian, atau sebenarnya memang butuh cinta. Tapi, yang dirasakan keduanya. Saat seseorang tertawa begitu lantang ternyata banyak yang disembunyikan ya, wkwkwk. Dan memang sesama manusia tidak akan selalu paham satu dengan yang lain, yang paling bisa memahami hanya diri sendiri. Tapi kadang pertanyaan muncul, "Siapa aku?". Mirisnya, seseorang selalu tidak memahami dirinya sendiri. Ya memang butuh manusia lain yang bisa membantu mengenali diri sendiri, tapi sejujurnya aku memahami bahwa aku tidak bisa selalu bergantung dengan orang lain. Aku selalu berpikir, jangan memperlihatkan sisi lemah di depan orang lain. Selalu saja membuat "pertahanan diri" yang sebenarnya hanya membuat lelah. Menjadi profesional bukanlah hal yang mudah, 60% dari diriku sangat profesional sisanya? Terdengar lebih seperti kepura-puraan yang terkemas rapi. Hal terkacau yang pernah aku tunjukkan hanya menangis ketika lelah di depan beberapa orang dan ha...

Untuk Seseorang yang Hadir di Mimpi

Sepertinya bawah sadarku paham, kamu bukan rekaan. Kamu tersimpan di memori, mungkin terlalu dalam, atau aku tidak menyadarinya? Kita sudah lama bersua, bersama, namun hanya kesadaran tak menemui titik terangnya. Pada hari-hari sebelumnya, aku berpikir sama. Kamu akan menjadi kamu dan aku akan selalu seperti ini. Pikiranku tak akan berubah dan perasaanku tak akan berpindah arah. Namun, sepercik api akan membesar sewaktu-waktu. Kewarasan tak akan mempan menjawab perasaan. Logika lemah tak punya daya. Benar adanya, kamu sudah ada sejak lama, hanya saja kamu ku tepis beribu kali. Sesendok krim pendingin di malam itu, membuka kesadaranku. Bahwa selama ini kamu selalu peduli, dalam sendu atau sunyi. Memang terkadang caramu menyebalkan, sangat menyebalkan. Tapi entah mengapa aku rindu. Kamu dan aku itu semu. Mungkin tak akan menjadi padu. Bahkan mungkin rasa ini tak akan bertemu. Sejak kau hadir di alam bawah sadarku, do'aku selalu ku rapal untukmu. Sukoharjo, 31 Agustus 2020 22.15 WIB

Kosong

Halo udah lama nggak nulis apapun ya.  Kesini juga karena ini lagi "senggang" dan karena merasa harus menulis aja walaupun kontennya kurang berisi. Cuma pengen cerita ngalor ngidul aja sebenernya terus juga karena nggak ada teman yang bisa diajak diskusi alias curhat. Ya ngalir aja lah ya, biasanya juga begitu. Oke semakin kesini karena sudah terbiasa buat sendirian apapun kegiatannya jadi emang sering mikir ke diri sendiri. Nah karena itulah jadi permasalahan tersendiri buatku. Nggak tau kenapa jadi hilang selera buat suka sama suatu hal terus tekun banget entah karena kurang dukungan atau gimana. Tapi, aku memang tipe yang konfirmatif, apa-apa harus konfirmasi sama orang lain dan jujur ini menyiksa karena posisinya sekarang bener-bener sendiri. Pemikiranku sekarang jadi harus bisa menentukan pilihan sendiri yuk bisa kalo nggak kurang-kurangin buat tanya,curhat,ngobrol panjang lebar ke orang. Oh apakah aku sudah menjadi anak introvert? Nggak juga sebenernya, sering mera...

Dan Akhirnya Jogjakarta Punya Cerita untuk Saya

3 Agustus 2019 Saya memberanikan diri pergi ke suatu daerah yang jarang saya kunjungi dengan membawa kendaraan sendiri terkecuali dengan rombongan teman-teman, pada siang itu saya mengajak teman  untuk menemani kenekad-an diri ke suatu daerah, awalnya saya berniat menguji kemampuan jam terbang mengendarai motor saya dan bertujuan mengunjungi suatu bazar buku terbesar yang diadakan di daerah tersebut.  Pukul 13.30 WIB saya berangkat bersama sahabat yaitu Gina. Ya sudah bisa tertebak dimana saya akan pergi, ke sebuah kota yang tak jauh dari Solo, jarak tempuhnya haya kurang lebih dua jam saja, dan saya berpikir bisa melewatinya. Ya saya pergi ke Jogjakarta. Kota yang bagi semua orang menyimpan cerita yang panjang, cerita yang indah dan menyentuh. Bagi mereka kota yang selalu menyimpan kenangan dan membuat mereka selalu ingin kembali kesana. Namun, mengapa saya belum merasakannya, bolak - balik saya mengunjunginya, perasaan saya merasa biasa saja, tidak pernah ada ras...

Sambatan Ekstrovert

Hai semua, orang - orang yang kuharap mampir dan mengerti sedikit sambatanku. Minggu ini entah mengapa saya selalu membaca ataupun sekilas terbaca kalimat yang merujuk pada inti "Apapun yang kamu rasakan, semua perasaanmu apapun yang kamu rasakan, simpanlah sendiri dan pasrahkan pada Tuhan, sebab Tuhan yang Maha Mengerti dan Memahami segalanya." Saya merasa, bagaimana ya? Jika dibilang setuju dengan pernyataan itu ya memang saya setuju. Tapi, saya tidak sepenuhnya bisa melakukan hal itu. Saya bukan orang yang suka menyimpan cerita, rasa, emosi. Saya orang yang selalu menunjukkan segalanya yang saat itu juga dialami. Saya bahkan bisa menangis sejadinya ketika saya memang sakit hati, lelah rasa, atau kondisinya memang sedang tidak enak sekali. Saya juga tertawa ketika melihat hal yang lucu sekali. Entah mengapa saya mudah berubah untuk mengekspresikannya. Beberapa sahabat bahkan mayoritas mengerti bahwa saya sangat menahan perasaan sedih dan sakit sehingga saya hanya tertawa ...

Malam - malam

Aku selalu berpikir bahwa malam sangatlah menyenangkan. Mengajarkan untuk merenungi kejadian seharian, mengikhlaskan dan meleburkan hal - hal yang menjadi beban di hari itu. Malam pun tidak pernah lari meninggalkan diri ini menangis sampai tertidur, setia menemani sampai diri lelah dan menyadarkan bahwa esoknya ada hari baru yang harus di awali, diperbaiki, dan di isi. Malam sangat setia bahkan bagiku adalah waktu yang paling menyenangkan. Berdo'a sedalam - dalam perasaan hingga tangis memecah keheningan selalu bisa menjadi agenda. Memanjatkan harap di sepertiga malam juga adalah sebaik - baiknya. Gelapnya malam tercerahkan karena do'a yang amat menyala. Aku bisa menikmati hangatnya malam dari dinginnya. Aku bisa menikmati ramainya malam dari do'a - do'a yang beradu di kesunyiannya. Aku bisa menikmati tenangnya malam dari nyamannya menangis, tersenyum, berpikir, berimajinasi di sepanjang waktunya.